Coelacanth

Posted: Mei 8, 2012 in Hewan, Hewan Aneh
Tag:
Upakelas:

Actinistia

Infrakelas: Coelacanthimorpha
Ordo: Coelacanthiformes

Image  ImageImage

Coelacanth (artinya “duri yang berongga”, dari perkataan Yunanicoelia, “κοιλιά” (berongga) dan acanthos, “άκανθος” (duri), merujuk pada duri siripnya yang berongga) IPA: [ˈsiːləˌkænθ] adalah nama ordo(bangsa) ikan yang antara lain terdiri dari sebuah cabang evolusitertua yang masih hidup dari ikan berahang. Coelacanth diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun yang lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di timur Afrika Selatan, di perairan sungai Chalumna tahun 1938. Sejak itu Coelacanth telah ditemukan di Komoro, perairan pulau Manado Tua di Sulawesi,KenyaTanzaniaMozambikMadagaskar dan taman laut St. Lucia diAfrika Selatan. Di Indonesia, khususnya di sekitar ManadoSulawesi Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut.
Coelacanth terdiri dari sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan penemuan fosil.

Sampai saat ini, telah ada 2 spesies hidup Coelacanth yang ditemukan yaitu Coelacanth Komoro, Latimeria chalumnae dan Coelacanth Sulawesi (manado), Latimeria menadoensis.
Hingga tahun 1938, ikan yang berkerabat dekat dengan ikan paru-paruini dianggap telah punah semenjak akhir Masa Kretaseus, sekitar 65 juta tahun yang silam. Sampai ketika seekor coelacanth hidup tertangkap oleh jaring hiu di muka kuala Sungai Chalumna, Afrika Selatan pada bulan Desember tahun tersebut. Kapten kapal pukat yang tertarik melihat ikan aneh tersebut, mengirimkannya ke museum di kota East London, yang ketika itu dipimpin oleh Nn. Marjorie Courtney-Latimer. Seorang iktiologis (ahli ikan) setempat, Dr. J.L.B. Smith kemudian mendeskripsi ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal Nature pada tahun 1939. Ia memberi namaLatimeria chalumnae kepada ikan jenis baru tersebut, untuk mengenang sang kurator museum dan lokasi penemuan ikan itu.

Berkas:Coelacanth and Courtenay-Latimer.jpg
Coelacanth pertama yang ditemukan diAfrika Selatan, di hadapan Nn. Courtenay-Latimer, kurator museum East London.
 
Image
 

Pencarian lokasi tempat tinggal ikan purba itu selama belasan tahun berikutnya kemudian mendapatkan perairan Kepulauan Komoro diSamudera Hindia sebelah barat sebagai habitatnya, di mana beberapa ratus individu diperkirakan hidup pada kedalaman laut lebih dari 150 m. Di luar kepulauan itu, sampai tahun 1990an beberapa individu juga tertangkap di perairan MozambiqueMadagaskar, dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian daripopulasi yang kurang lebih sama.
Pada tahun 1998, enampuluh tahun setelah ditemukannya fosil hidup coelacanth Komoro, seekor ikan raja laut tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara. Ikan ini sudah dikenal lama oleh para nelayan setempat, namun belum diketahui keberadaannya di sana oleh dunia ilmu pengetahuan. Ikan raja laut secara fisik mirip coelacanth Komoro, dengan perbedaan pada warnanya. Yakni raja laut berwarna coklat, sementara coelacanth Komoro berwarna biru baja.
Ikan raja laut tersebut kemudian dikirimkan kepada seorang peneliti Amerika yang tinggal di Manado, Mark Erdmann, bersama dua koleganya, R.L. Caldwell dan Moh. Kasim Moosa dari LIPI. Penemuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature.[1] Maka kini orang mengetahui bahwa ada populasi coelacanth yang kedua, yang terpisah menyeberangi Samudera Hindia dan pulau-pulau di Indonesia barat sejauh kurang-lebih 10.000 km. Belakangan, berdasarkan analisis DNA-mitokondria dan isolasi populasi, beberapa peneliti Indonesia dan Prancis mengusulkan ikan raja laut sebagai spesies baru Latimeria menadoensis.
Dua tahun kemudian ditemukan pula sekelompok coelacanth yang hidup di perairan Kawasan Lindung Laut (Marine Protected Areas) St. Lucia di Afrika Selatan. Orang kemudian menyadari bahwa kemungkinan masih terdapat populasi-populasi coelacanth yang lain di dunia, termasuk pula di bagian lain Nusantara, mengingat bahwa ikan ini hidup terisolir di kedalaman laut, terutama di sekitar pulau-pulau vulkanik. Hingga saat ini status taksonomi coelacanth yang baru ini masih diperdebatkan.
Pada bulan Mei 2007, seorang nelayan Indonesia menangkap seekor coelacanth di lepas pantai Provinsi Sulawesi Utara. Ikan ini memiliki ukuran sepanjang 131 centimeter dengan berat 51 kg ketika ditangkap.

Image

Ikan ini ditemukan masih hidup di perairan Sulawesi. Coelacanth (Latimeria menadoensis), merupakan ikan purba yang hidup di kedalaman 155 meter di bawah permukaan laut.

Setiap penampakan coelacanth kerap menggegerkan dunia ilmu pengetahuan karena dinyakinin sebagai ‘Fosil hidup’ sebagai asal mula semua hewan berkaki empat (tetrapoda) di muka Bumi –termasuk manusia.

Sebelumnya fosil coelacanth ditemukan di banyak lokasi, terutama di sebelah barat Samudera India. Fosil tertua tercatat berusia 360 juta tahun. Yang termuda 80 juta tahun. Setelah itu tak ditemukan lagi fosil-fosil Coelacanth yang lebih muda dari 80 juta tahun. Ia pun diyakini punah pada titik itu: 80 juta tahun lampau.

Image

Keyakinan ini runtuh seketika pada 1938, yakni saat Marjorie Courtenay-Latimer, seorang kurator museum, menemukan seekor ikan aneh di perairan Afrika Selatan. Pakar biologi JLB Smith memastikan bahwa ikan itu Coelacanth. Mereka pun menamai ‘fosil hidup’ itu sebagai Latimeria chalumnae Smith.

Kemudian ikan ini beberapa kali tampak di perairan Afrika Selatan, Mozambik, Madagaskar, dan Kepulauan Komoro. Berdasarkan tes DNA, seluruh jenis coelantach yang hidup di Afrika dan di barat Samudera India berasal dari induk yang sama.

”Teorinya, suatu waktu ada betina yang terdampar di daerah Afrika, kemudian berkembang biak di situ,” terang Kasim. Jenis-jenis coelacanth yang berhasil ditemukan, memiliki panjang maksimal dua meter, berat 100 kilogram, umur maksimal 22 tahun. Ikan ini tidak bertelur tapi melahirkan anak.

Image

Dugaan bahwa ikan ini semata-mata hidup di Afrika Selatan mulai terbantahkan. Pada September 1997, peneliti Universitas Berkeley California, Dr Mark Erdmann, secara tak sengaja menemukan ikan ini salah satu sudut pasar ikan di Sulawesi Utara. Namun ikan itu raib. Baru pada 30 Juli 1998, Lameh Sonatham berhasil menemukan seekor Coelacanth di perairan Manado Tua, Sulawesi Utara, atau 10 ribu kilometer dari Kepulauan Komoro, dan mengabadikannya. Dari situ, dinamai jenis baru coelacanth, yakni Latimera menadoensis.

Ikan ini dilarang keras diambil, sebab ia termasuk hewan dilindungi nomor wahid oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES). Padahal, dari analisis DNA, menurut Kasim, dapat dikira-kira berapa jumlah yang masih hidup.
Berdasarkan analisis DNA pula, lanjut Kasim, coelacanth yang ditemukan di perairan Sulawesi tercatat berumur lebih tua ketimbang jenis yang hidup di perairan Afrika. Apa artinya? ”Yang jelas, kita masih perlu melakukan riset panjang soal ini. Tapi sayangnya, tak ada dana (dari pemerintah),” terang Kasim yang kerap jadi rujukan dalam ekspedisi coelacanth, termasuk tim Fukushima.

Image

Mulanya Coelacanth diyakini tidak benar-benar hidup di laut Sulawesi, melainkan di perairan Filipina. Namun sejumlah temuan, termasuk yang terbaru oleh tim Fukushima, kian menguatkan bahwa ikan purba ini asli Indonesia Timur. Nelayan Sulawesi menjuluki ikan ini sebagai Si Raja Laut.

Ekspedisi tim JepangTim Fukushima Aqua Marine mulai mengeksplorasi laut Sulawesi Utara tahun lalu. Perburuan terakhir, yang berbuah sukses, dimulai 27 Mei. Ekspedisi dimulai di perairan Bunaken, Sulawesi Utara. Namun nihil. Tim yang beranggotakan tiga peneliti Jepang dan satu peneliti Universitas Sam Ratulangi, Manado, ini pun memindahkan lokasi riset ke perairan Sulawesi Tengah. Sukses.

Image

Image

 

Sebanyak 45 titik dieksplorasi. Total waktu efektif yang dilakukan 45 jam 28 menit. Sukses. Lima ekor coelacanth muncul di perairan di utara kota Buol, Sulteng. Ikan-ikan ini tersebut ditemukan pada di lokasi berbeda pada kedalaman bervariasi antara 155 meter dan 183 meter.
Mereka ditemukan di gua-gua di dasar laut. Inilah alasan mengapa perlu kesabaran tingkat tinggi saat memburu Coelacanth. Ikan jenis ini, kata Kasim, sengaja tinggal di gua-gua kecil, guna menghindar arus bawah laut yang deras. ”Ikan ini amat lamban. Di perairan cepat ia tidak bisa berenang,” paparnya. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s